Labels

Sunday, July 27, 2014

SMS hari lebaran yang panjang.

Mari coba bayangkan bahwa kita adalah sekelompok orang yang cinta alam yang memiliki cita-cita terbesar untuk melihat kawah gunung rinjani yang elok dengan mata kepala kita sendiri. Apa daya kita adalah mahasiswa-mahasiswa sibuk yang tidak punya waktu dan tidak punya uang.

Bertahun-tahun kita puaskan cita-cita kita dengan hanya mendengar cerita-cerita orang yang pernah sampai di bukit kita, di surga kita. Tentang agungnya goa-goa yang disembunyikannya. Dan indahnya danau Segara Anak yang menghampar. Kita dengar cerita perjalanan mereka. Mereka yang berkisah indahnya berangkat dengan kereta untuk selanjutnya menyebrang dengan kapal feri. Mereka yang lain yang bercerita kemudahan untuk menggunakan pesawat terbang. Tapi pengalaman bukan cerita. dan Perjalanan sifatnya pribadi. Memercayai keindahan gunung rinjani, mengimaninya, tidak bisa dilakukan dengan mendengar cerita orang lain saja. 

Sedapatnya kita membaca cerita perjalanan dan mendengar kisah tentang keindahannya ataupun mencari gambarnya di internet, itu tidak akan pernah menjadi cukup untuk menjadi citraan di belakang kepala kita. Membaca, mendengar dan membandingkan tidak pernah cukup. Kita, sampai kapanpun, tidak akan pernah dapat melihat gunung jika kita tidak pernah berangkat naik gunung.

Maka kemudian malam ini marilah kita menyusun rencana perjalanan kita. Tentang jalan yang akan kita tempuh. Transportasi yang kita ambil. Apakah jalan darat atau jalan udara. Melalui rute senaru ataupun sembalun. Mungkin sepanjang perjalanan kita akan diliputi rasa cemas dan ragu, tentang rute yang kita ambil. Mungkin sepanjang pendakian kita akan ditusuk rasa dingin dan gigitan serangga. Dan kemudian apabila pada akhirnya kita ternyata tidak sampai disana, kita sudah melangkahkan kaki dari luar kamar-kamar kita. Kita dapat menuliskan cerita perjalanan kita sendiri. Dan kita sudah jadi lebih dekat dengan gunung rinjani, dibanding kita yang membanding-banding dan mematut-matut rute di keamanan temaram lampu kamar melalui buku-buku yang kita baca. 

Karena percaya dan patuh, hanya bisa terjadi setelah mendengar. Dan mendengar baru bisa dilakukan setelah membaca. Dan membaca, yang kita lakukan selama ini bukanlah membaca, membaca dimulai dari langkah-langkah bayi yang kita akan ambil. Langkah-langkah yang memang kecil, tapi membawa kita beberapa langkah bayi lebih dekat
menuju gunung rinjani.
maaf lama pergi.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Khairu Nuzula
1 Syawal 1435H
28 Juli 2014
0013

Monday, June 30, 2014

ungodly hour.

Pada saatnya nanti juga akan sampai disana. Asalkan enggan berhenti mencari. Perasaan ingin berubah itu sudah ada sejak dulu dan tetap ada. Tetapi kebaikan yang mereka tawarkan cenderung menawarkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Mungkin karena saya yang berpikir terlalu sederhana. Tapi logika diciptakan bukan untuk berkhianat. Makanya, ketika digunakan dengan benar maka pasti ujungnya kesana. Dan akan tiba saatnya perjalanan itu lebih terpacu. Ketika bertemu mereka yang baik. Bukan karena mereka menuntut untuk jadi baik, tapi perasaan diri yang malu ketika gagal menjadi cukup baik untuk mereka. Dan di akhir, saya akan jadi orang baik yang mengerti. Yang pasti itu lebih baik daripada sekedar baik. 
Kemudian sampai saat itu tiba, tidak ada jalan pintas , hanya bisa terus belajar dan baca.

Monday, June 16, 2014

Pledge, sort of

In this time, when we feel like we are at the edge. And life is handing out lemon for free. too much of it actually. In the weather this harsh, the sky this cloudy. It is hard to use judgement and clear head. It is our most vulnerable of what if and what would have been.

But shall we be constantly reminded? That we caught in so maaaaany storm to get into this one. And those were carved into the back of our head, and scarred our mind. But it is just a tiny little star dust in the past.

Then we shall prevail. Like those who preceeds us. Those who prove time and time again that this can be done. And like we have done before, we will weather the storm. Buckle up. and then dust the debris of ourselves to find out the rainbow overhead.

So defiantly, let we say it from the top of our lungs that this too, like all of the other, shall pass.

Then, excuse us for we have a date with destiny that we must be prepared for.