Labels

Friday, June 2, 2017

Let's stop with being right.

Sometimes, you just know that your opinion is completely in line with the facts. Sometimes, all evidence point out to your beliefs. Sometimes, the people you talking with are talking nonsense. Sometimes, they even willingly take stupidness mantle and wear it, proudly.

Naturally, we argue. We raise our voice, we go to overdrive to deliver our points. They retort and push you back. And you go even further. 

It feels good to be right. Even the most timid and shy of man get some degree happiness from being right about his opinion, value, or beliefs. It is almost addicting to win an argument , isnt it?
But what cost do we pay to feel good really?

Truth, while should be universal can be intepreted differently.  There isnt any fallacy in that truth. The fallacy is in us. We are too young, too limited to understand the whole concept of truth. We just know what we beliefs. And who to say that all of us were not right?

I remember few years back, the internet went mental with the black-blue dress / white-gold dress photo. You know, the photo of dress that the colour is different for whoever see it. For the first few days it is unacceptable for us to have people that have different saying about the colour of the dress. It wasnt make sense for me too , initially. The colour of the dres should be simple fact that cause no dissent in opinion. But science explain, that our limitation in intepreting visual fact and point of view are valid reason we have different opinion.

the said dress


If such simple picture can deceive us, then what are more complex things capable of? We dont argue about the dress that much and accept that while we have difference, we all are right. So why does it matter so much for us to argue about our beliefs? I mean, if we believe in God , omniscience and omnipresence, sit in his arasy, his throne somewhere, does it matter that much where He is sitting at?
Just like the dress, it is not that God mislead us intentionally by giving each one of us different beliefs. It is just us, who too limited to understand after all.

Then again, just like i convinced my friend that i see white-gold dress. I want them to accept that as fact too. But if they wont, i know their beliefs is not wrong either. Because my beliefs tell me that being mean, even it is about my truth, my fact, my value, and my beliefs are not allowed.

I was told to be nice. I was told to treat other with kindness whatever they beliefs are. I was told to speak good or speak nothing. I was told to love, not to hurt others. And doing contrary, that by fighting about same piece of truth would only let my beliefs and my God down.

Because in the end, the truth is not going anywhere. Beliefs are personal. No matter how many people accept, it will always be the truth. No matter how many people see the dress the same colour as me, it will always be white gold to me. But being right is not as important anymore. And then the timid and shy self of me stop caring about winning argument.

Saturday, February 18, 2017

The Otter Allegory

Wohoo, trying to get back here after a long freakin while. *dust off this silly blog.

As part of my “New Year Resolution” , and “24th year Old Manifesto” (yeah cliche but i am gullible for falling for that kind of stuff) i will try to write again. Yeay, cheers .. i guess?

As part of my hopefully full-time comeback, what better than to write about something that so trending right now. Something that so coincidentally very close and personal to me. Something that makes me so righteous that i have to chime in with my useless opinion from my high place. Thats right , you bet it is, we are going to talk about that fight between Nassar and Dewi Persik.
...

..


Just kidding. Nah. We are going to talk about that something that you might already guess from that one pharagraph above. But to make it more enigmatic, more cryptic, more pointless, and more me-esque, i will write it in allegory form. I will write it in a free-verse writing full with incomprehenible simile .

Disclaimer : because this is my first writing in a while, the grammar will be less then appropriate. I wont do any proofreading, since it will obstruct the flow of the story usually, and since it is freakin 1 AM and i want to sleep. Please do point out mistakes without having to feel like grammar nazi. That’s the only way to make me better.

So here it is,

The allegory of Archipelagoean Otter Family.

Thursday, December 3, 2015

Melanggar peraturan yang salah adalah menegakan peraturan. Atau semacamnya lah.

Sekarang, saya bekerja di kantor yang ada di Daerah Thamrin. Setiap hari berpergian dengan menggunakan kereta. Sebenarnya masih terjangkau kalau mau menggunakan motor. Tapi karena malas bermacet-macet setiap hari saya naik motor hanya sampai Stasiun Pondok Cina, dan lanjut naik kereta. Hampir setiap hari juga saat berangkat saya mampir ke pemukiman yang tidak jauh dari Pondok Cina. Ngapain? Ehm .
Pintu masuk menuju pemukiman tersebut melewati kampus saya. Atau mungkin sekarang jadi mantan kampus. Eh engga, saya mantan mahasiswa di kampus itu tapi kampus itu ga jadi mantan kampus saya. Atau iya ya? Itu saya juga kurang paham aturan perbahasaannya.

Tapi intinya adalah di gerbang masuk ke pemukiman itu , yang biasanya bebas dilalui kendaraan, akan ditetapkan aturan baru yang membuat gerbangnya jadi satu arah. Peraturannya kira kira begini “ Mulai tanggal sekian gerbang ini khusus dilalui sebagai gerbang keluar. Untuk gerbang masuk bisa menggunakan gerbang yang ada di sana “ merujuk pada tempat lain yang jaraknya 500 meter dari gerbang keluar. Peraturannya resmi. Ada cap kampusnya juga. Sebagai orang yang tersistematis, yang selalu bangun di jam sama , berangkat di jam yang sama, dan naik kereta di jam yang selalu sama agar sampai di kantor selalu tepat, tepat jam masuk, tentunya perubahan waktu yang diakibatkan rute yang geser ini akan berakibat panjang. 500 meter di jalan kecil itu setara dengan 5 menit yang artinya saya harus ketinggalan kereta dan telat. Setiap hari. Ya tinggal bangun lebih pagi sih tapi itu ga tinggal.Ga tinggal mas..

Tapi gapapa , supaya kampus lebih tertib dan terhindar dari cabe-cabean yang menyerang ini perubahan ke arah yang lebih baik kok. Jadi kalaupun saya harus muter tiap pagi melalui rute yang lebih panjang, atas nama kebaikan dan kesejahteraan umum saya ikhlas.

Tapi yasudah, beberapa hari sebelum peraturan itu efektf saya mencoba menghitung berapa lama pergeseran waktu yang dibutuhkan dengan rute baru tersebut. Saya masuk lewat gerbang masuk dan keluar lewat gerbang keluar. Sesuai peraturan baru. Semacam simulasi untuk ngukur waktu dan berapa menit saya harus bangun lebih awal. Wah lumayan juga, bisa 7-10 menit.Tapi tak apa, demi kebaikan dan kesejahteraan umum.

Eh tetapi pada hari pertama efektif peraturan tersebut karena saya bangun kesiangan, saya jadi ga mampir ke pemukiman-dekat-kampus itu deh, Ehm. Jadi langsung menuju stasiun. Sebagai gantinya saya mampirnya saat pulang kerja. Masuknya lewat gerbang yang harusnya adalah gerbang keluar, karena gerbang masuknya itu lebih jauh dari stasiun dan tempat yang mau saya mampirin juga lebih dekat dari gerbang keluar. Gapapa juga. Banyak yang lewat juga.  Mungkin karena sudah malam jadi longgar peraturannya. Hari pertama juga mungkin masih masa percobaan.

Tapi besoknya, pagi saat saya mampir, dan mau masuk lewat pintu keluar, ada petugas yang jaga di pintu. Walah kalau harus muter bisa makan waktu lama. Pasti bakal telat. Tapi toh banyak orang yang lewat juga. Yang masuk lewat pintu keluar. Dan didiamkan aja sama petugas yang berjaga. Yasudah saya lewat aja deh, toh kalau melanggar pasti dilarang. Eh ternyata enggak. Petugasnya malah menjaga motor-motor yang mau keluar untuk disuruh lewat pintu yang lain. Loh ini kok gimana? Kebalik. Pintu keluar ga boleh dipake keluar dan malah dipake masuk?
Dan akhirnya, saya baru menyadari ada kesalahan pada logika berpikir saya. Eh, dibilang salah juga enggak sih ya.
Jadi Peraturan “ Gerbang ini hanya dilalui sebagai gerbang keluar “ itu. Ditulis oleh Pihak Kampus . Ya jelas saja  artinya sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang kampus. Keluar pada peraturan itu tentunya aja keluar dari kampus. Atau menuju pemukiman. Pintu masuk pun adalah pintu masuk ke kampus, dari lingkungan luar yaitu lingkungan pemukiman. Karena bagi pihak kampus, tujuannya adalah kampus. Kampus adalah bagian dalamnya.
Yang tidak saya sadari adalah saya membaca peraturan tersebut sebagai orang yang bertujuan ke pemukiman. Bagi saya proses saya berpindah dari kampus ke pemukiman adalah proses masuk, karena tepmat yang saya tuju adalah pemukiman. Pemukiman adalah bagian dalamnya.

Untung saya salah ketika sedang melanggar peraturan, minus ketemu minus kan jadinya positif. Yang saya langgar adalah peraturan yang salah jadinya saya benar. Saya keluar lewat pintu keluar yang saya anggap pintu masuk. Padahal sebenarnya mah emang pintu keluar.
Coba kalau saya lagi nurut masuk lewat pintu masuk versi saya yang menuju pemukiman, atau pintu keluar versi UI . Dicegat petugas dimarahi karena melanggar peraturan. Pastinya saya akan berdebat dengan galak kalau saya nurut pada peraturan. Dan saya pastinya akan menolak setengah mati untuk dikatakan salah. Betapa malunya saya kalau sampai itu terjadi. Niat saya baik untuk masuk sesuai peraturan , niat petugas juga baik menegakkan peraturan, tapi malah beranteem

Betapa kacamata yang kita pakai dan sepatu yang kita kenakan mempengaruhi intepretasi kita terhadap sesuatu. Hem, mungkin ini kenapa dua argumen yang bertolakbelakang bisa diperdebatkan begitu sengit dengan kedua pihak yang ga pernah akan ingin mengalahh dan tanpa akan pernah mendapat kesepakatan ( I am thinking about penentuan 1 ramadhan for example, but you may have various different idea that related to your troubles). Karena mereka melihat dari tempat yang berbeda. Wow, i am so deep man.
Baiklah, selanjutnya ketika ada perbedaan pendapat terjadi, saya akan pastikan dulu kalau saya melihat dari kacamata yang sama. Betapa ngerinya  kalau ada dua pihak yang sebenarnya baik tapi saling konflik, bahkan berdebat bertukar bantahan dengan sengit hanya karena perbedaan sudut pandang yang bodoh.

Semoga.

KN
031215
0604

writer's note:

This is my first writing in a while. In a very long while even. While writing is always be my escape route and my safe place, i am barely able to make time for it. I am a full-time worker now, with heavy workload and sadly tight workhour, not to mention at least 3,5 hours travel back and forth between my home and office. 

Writing is my way of shaping up the alternative reality, my simulation of what ifs,  my intepretation of what may happen if i behave certain way which i dont do in real life. And my thought processor to come terms with what happen in reality. Hence the name of Imaginarium

In the unknown terrority, of adulthood it is imagination that we needed the most. But it is the one that most of us lacked. And with the time that i blessed with, maybe my imaginarium cannot work in full cylinder. Maybe i cant talk about football anymore. Write whiny long love letter. Or an uncohesive poet on life.

The writing that i am capable of now maybe will sounds more bitter, more in touch with reality. Maybe this place isnt suitable to be called imaginarium anymore.